oleh pelajar SMA biasa..
Memang bukan cerita baru kalau kita melihat fenomena kegagalan pendidikan di Indonesia tentang siswa atau mahasiswa yang tawuran disana-sini. Entah kesannya dari pemerintah terkesan hanya dibiarkan saja. Terlarut-larut sehingga sudah mendarah daging di wajah pendidikan Indonesia. Kegagalan seperti ini apakah akan berlanjut? Akankah ada sesuatu untuk menghapus tinta merah pekat dari kemurnian putih abu abu itu?






Ketika ada seseorang mendaftar ke suatu sekolah. Ternyata disekolah itu bukan hanya “intelektual”nya saja yang digembleng. Sifat,perilaku ternyata sangat dipengaruhi oleh sekolah. Disini siswa hanyalah kotak kosong yang siap diisi. Dan sekolahlah yang bertanggung jawab atas segala “isi” yang ada didalam kotak. Entah mereka ingin menjejalinya dengan rumus-rumus kapitalisme,atau disi dengan air petuah kehidupan.

Siapa yang salah?                                             

Kebanyakan pendidikan pasti menginginkan anak didiknya sukses. Tapi ternyata “sukses” disini oleh para pendidik penafsirannya berbeda. Sebagian melihat prestasi akademik adalah parameter kesuksesan mereka dalam mendidik siswa. Ada yang mengangap yang penting anak didiknya lulus dari UNAS dan SNMPTN. Hanya sedikit pendidik yang memikirkan bagaimana karakter siswanya.

Apakah salah guru agama? Apakah salah guru BK?. Lihatlah sekarang. Guru agama saja hanya diberi jatah 2 jam pelajaran oleh sekolah!. Apalagi guru BK mereka harus pandai mengambil waktu ketika pendidik  yang lain sedang berhalangan. Banyak sekolah yang menggangap bahwa pendidikan karakter tidak perlu. Walhasil pendidikan karakter hanya diberi porsi kecil dibandingkan pori pelajaran UAN. Tapi pada saat ada siswanya yang tawuran. Mereka dengan mudahnya mengkambing hitamkan guru-guru ini.

Siswa juga ternyata mempunyai andil yang besar disini. Dengan tekad solidaritas mereka menyerang sekolah lain, padahal pemicunya mungkin adalah hal yang sangat sepele seperti pacar seseorang direbut oleh siswa sekolah lain. Mereka salah karena ternyata hanya dengan alasan seperti itu mereka membantai teman mereka sendiri. Melupakan bahwa teman mereka yang mati itu dulu adalah teman sekampung, teman jawatan masa smp..

Masyarakat juga salah, mereka mempertontonkan adegan anarkisme setiap hari. Sering kali ada berita sekelompok ormas mengobrak abrik seminar dengan kekerasan, membubarkan suatu forum dengan anarkisme,mempertontonkan egoisme suatu kelompok. Mengangap kelompoknya adalah “tangan tuhan” sadarkah kalian kalau perilaku kalian ditiru oleh generasi bangsa? Kalian juga salah!

Apabila kita memperdebatkan siapa yang salah tak akan ada selesainya. Jangan sampai energi bangsa ini terfosir memperdebatkan siapa yang salah, karena pada dasarnya perilaku siswa ini adalah tanggung jawab semua organ masyarakat. Karena apa? Karena merekalah yang bertanggung jawab membesarkan generasi muda di lingkungan mereka.

Semoga saja dengan adanya kurikulum baru yang digagas oleh menteri pendidikan dan kebudayaan ini mampu mereformasi pendidikan di Indonesia, semua sistem pendidikan yang baru ini mementingkan persatuan daripada perpecahan. Saya ingin meminjam kata dari mas Reggy Hisabunnan yaitu  Unity in diversity .

Kesadaran atas kebersamaan. Walaupun warna almamater berbeda, tetaplah sama. Pelajar tugas utamanya tetap saja belajar. Hal itulah yang mempersatukan mereka. Tapi ternyata. Jauh panggang dari api. Kebersamaan sulit sekali diwujudkan. Kebersamaan sering sekali diidentikan dengan 

Leave a Reply