Sebuah catatan
kegiatan social
By Pelajar SMA biasa
Kalau pekerjaan yang paling disiplin. Bisa aku katakan
kalau pelajar ialah pekerjaan yang paling disiplin. Mereka harus berangkat dan
tiba di sekolah pukul 7 tepat. Berbeda dengan pekerjaan lain. mereka harus
menempuh semua ini minimal 12 tahun. Dan tentu tanpa ada tunjangan atau cuti
seperti pekerja kebanyakan. Aku sebagai pelajar SMA tak luput juga dari
kewajiban ini.
Setiap hari bangun
dengan rutinisitas yang sangat rigid tentu membosankan. Setiap hari bergelut
dengan kata-kata, angka-angka, bersaing dengan teman sendiri. Tak jarang malah
kita mengorbankan teman hanya untuk nilai statistik yang bisu. Memang kenyataan
yang ironis. Dimana kita harus berjuang untuk masa depan. Tapi kita melupakan
dasar kita yang paling dasar sebagai mahkluk sosial. Malah kita dipaksa untuk
menjadi binatang. Yang tak kenal mana kawan mana musuh. Yang hanya kenal
kepentingan.
Dengan pola hidup
yang seperti ini Tak pelak hal ini membuatku lupa dengan apa yang ada diluar
sana. Apa yang terjadi di luar sekolah. Secara karena kita terkurung di
lingkungan tertutup. Kalau bukan hal yang mendesak. Kita tidak diperbolehkan
untuk keluar dari lingkungan sekolah. Hal ini sangat berpengaruh dengan pola
pikir kita. Pikiran kita lama-lama akan terkontaminasi. Tapi manusia adalah
mahluk yang aneh. Dia bisa berubah hanya dengan kejadian tak terjuga. Dan
sepertinya momentum itu akan datang.
Hari ini adalah 1 oktober 2012. Hari kesaktian
pancasila. Pada hari tersebut sekolah saya biasa-biasa saja. Tapi ternyata
sekolah saya memperingatinya dengan cara yang berbeda. Yaitu melakukan kegiatan
bakti sosial. Dan saya menjadi bagian dari cara yang berbeda itu. Pada saat itu
saya bertanya pada diri sendiri. Apakah? tujuan saya mengikuti kegiatan ini?
Benarkah untuk membantu sesama?. hatiku belum siap untuk menjawab.
Baksos kali
ini Bertempat di desa terpencil di pingiran desa. Yaitu di daerah Kecamatan
Jambon lebih tepatnya di Desa Sidowayah. Pertama memang tak sulit menentukan
lokasi ini. Lokasi ini sudah cukup terkenal karena kekurangannya. Entah ini
kekurangan dari sisi logistik, edukasi, dan lain-lain. tapi hal yang cukup
mengejutkan. Desa ini pernah mendapat predikat desa idiot. Predikat yang sangat
ironis mengingat desa ini berada di pingiran kota yang bisa dijangkau dengan
setengah jam perjalanan.
Pada saat survey
lokasi. Dengan komposisi sekitar delapan orang. Kami meninggalkan pelajaran di
sekolah. Hal ini seperti menyelam sambil meminum air. Bisa bolos dari pelajaran
yang membosankan, serta menjalankan kewajiban. Haha pada masa-masa SMA ini.
Bisa membolos dari pelajaran itu seperti mendapat durian runtuh.
Survey kali ini. Bisa
dikatakan gampang-gampang susah. Dengan medan sebagian masih berbatu kami
sempat ragu apakah nanti teman-teman bisa melewati medan ini. Tapi syukur. Hanya sebagian kecil yang masih
berbatu. Sebagian besar sudah beraspal atau sudah dibuat jalan setapak. Dengan
ini mobil maupun motor sudah leluasa malang melintang di daerah ini.
Ketika sampai di SDN
5 Krebet. Kami bertemu dengan kepala sekolah. Karena target kami ialah mereka
anak SD yang akan melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. Memperoleh
informasi tentang anak SD yang berada disini adalah hal yang utama. Setelah
semua dirasa cukup kami segera kembali ke sekolah.
Karena status kami
sebagai pelajar. Tentu bantuan yang paling tepat kita salurkan ialah tentang
edukasi. Kita bertujuan, anak-anak dari desa itu bisa melanjutkan sekolah lebih
tinggi. Hal tersebut tak pelak mewajibkan Kita selama seharian akan berubah
menjadi motivator. Padahal sebelumnya tidak memiliki pengalaman sama sekali.
Bayangkan. 300 orang akan menjadi motivator. Melatih mereka hanya dalam 3 hari
bukan perkara mudah.
Tapi kami punya ide.
Bagaimana apabila kita terbitkan sejenis panduan motivasi untuk pegangan
masing-masing? Ide yang sangat bagus. Dengan itu, batu terbesar sudah terpecahkan.
Untuk menyusun panduan itu pembina kami,Pak Hernu akan membuatnya.
Sekitar pukul 08.30 kami tiba di Balai desa
Sidowayah. Di desa itu kami dengan bangga berfoto ria bersama pamong desa
disana. Teman-teman semua kelihatan ceria dan sangat antusias mengikuti
kegiatan ini. Dari sini pertualangan yang sebenarnya dimulai.
Kami semua bisa disebut siswa yang
berkecukupan. Kita mengikuti kegiatan ini aja ada yang mengendarai sepeda
motor. Bahkan ada yang mengendarai mobil jeep, city car dan beragam jenis sepeda motor. Berangkat
dengan baju almamater kebanggaan. Kami disana seperti golongan konglomerat yang
hendak turun kelapangan. Mengumbar kemewahan.
Lihatlah betapa mereka sangat senang ketika
menerima sumbangan buku. Mereka sangat antusias, dan tidak ada wajah sedih
diantara mereka. Mereka semua bisa menahlukkan segala rintangan. Masih bisa
berdiri dengan kepala tegak walaupun mereka harus berhadapan dengan soal ujian
nasional yang sama dengan anak-anak kota yang bergelimang fasilitas.
Mereka menuruni gunung untuk bersekolah.
Disana jarang yang pakai sepatu. Hanya sebagian kecil saja yang bisa
membelinya. Padahal gunung itu Kami saja kesulitan mendakinya. Berkali-kali
harus istirahat.Tapi ternyata di wajah mereka, tak ada gurat lelah. Tapi miris,
semangat mereka tidak difasilitasi dengan baik. Padahal disini habibi-habibi
kecil menunggu momentum untuk bangkit.
Kami bercerita
tentang manfaat memperoleh pendidikan tinggi. Kami bercerita kisah sukses kami
di kota, berkisah dengan antutiasme tinggi. Kurasa sedikit kesombongan
terpancar dari kami. Tapi ternyata mereka (anak-anak) sama sekali tidak minder
atau berputus-asa! . mereka dengan semangat bertanya tentang beasiswa bertanya
bagaimana rasanya belajar di kota dan lain-lain.
Ditengah keterbatasan
fasilitas. Mereka tak menyerah, walaupun hanya berbekal sepatu butut dan satu
buku. Mengikuti Kegiatan belajar seolah adalah hal yang wajib bagi mereka.
Padahal sebagian orang tua ada yang melarang anaknya bersekolah karena
sullitnya medan. Bayangkan hanya untuk bersekolah mereka harus turun gunung.
Bahkan dilain tempat ada yang harus bergelantungan dijembatan rusak padahal
dibawahnya sungai yang deras.
Kami merasa kalah.
Mereka menempuh perjalanan berbahaya hanya untuk sekolah. Sedangkan kami? Sudah
punya sepeda motor sendiri saja masih banyak yang telat masuk sekolah. Kami
menghambur-hamburkan uang untuk pulsa tapi untuk buku? kami prioritaskan paling
bawah di daftar belanja kami. Benar benar kenyataan yang pahit

