Oleh seorang pelajar SMA biasa

Sampah mungkin bagi sebagian orang adalah benda yang sudah tidak bisa digunakan lagi harus disingkirkan. Dibuang,dikeluarkan dari lingkungan kita. Tapi definisi ini apakah berlaku pada mereka golongan yang melawan peraturan di masyarakat?. Mereka yang mendobrak kebiasaan?


Sampah pada dasarnya ialah “mereka” yang tidak bisa lagi memenuhi atau melawan aturan-aturan yang berlaku. Menabrak dinding norma.  Sehingga mereka pantas dibuang. Pantas untuk diharamkan. Pantas dicemooh.


Sebagai suatu bagian masyarakat “ kelompok sampah” ini tetaplah mempunyai hak yang sama dengan masyarakat lainnya. Tapi kenapa mereka malah disingkirkan? Dibuang? Dicemooh oleh sebaian besar masyarakat. Kalangan mana sih yang mengangap “sampah” itu? Hanya segelintir.

Pada dasarnya apabila ada keanehan. Tidak sesuai dengan kebiasaan masyarakat. Keanehan itu akan dinilai secara subjektif oleh masyarakat. Dibuang. Difatwakan haram dan sebagainya. Tapi apakah kalian tidak pernah melihat dari sisi lain? Melihat dari sisi seorang “sampah”?.

Sisi lain dari “sampah” ini mereka adalah golongan yang berani menentang norma. Memberontak mengambil jalan yang orang tak akan mau melewati. Mereka adalah golongan pemberani. Golongan para pioner. Semua tahu kalau anomali itu harus diluruskan. Mereka tahu kalau ada virus di komputer harus dibersihkan dengan anti virus. Walaupun mereka tahu itu. Mereka tetap maju.

Akankah semua”virus” itu jahat? Bagaimanakah definisi dari “jahat” itu sebenarnya? Pada dasarnya orang dikatakan melakukan kejahatan karena dia telah melakukan kegiatan yang melenceng dari norma sosial yang ada. Melewati batas yang seharusnya tidak boleh diterjang. Tapi apakah definisi itu bisa jadi pembenaran untuk menjustifikasi tentang tindakan seseorang?.

Orang mencuri sesuatu. Pantaslah dihukum karena mengambil barang milik orang lain. Hal itu berlaku dimana-mana. Tapi coba liat dari sisi para pencuri itu. Mereka mencuri untuk apa? Memenuhi kebutuhan hidup? Atau karena terjebak dalam pola hidup yang hedonis? Pernahkah terpikir?

Kenapa Menteri BUMN Dahlan Iskan berani melawan tata kesopanan di pemerintahan? Kenapa dia berani mendobrak birokrasi yang dirasanya sangat merepotkan?. Kenapa Sri Mulyani mantan Menteri Ekonomi hengkang dari pemerintahan dan menjadi salah satu direktur di Bank Dunia? Padahal dia adalah salah satu anak bangsa yang gemilang prestasinya?

 Who knows. Semua masalah itu bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Dan tidak bijaksana. Apabila melihat suatu masalah. Hanya dari satu sudut pandang saja.

Golongan lain yang merasa berhak untuk menghakimi para “sampah” ini menuduh para “sampah” dengan tuduhan-tuduhan yang mengacu pada peraturan yang ada. Merasa suci setelah menghakimi suatu”anomali” dan merasa “puas” setelah bisa “meluruskan” suatu deviasi yang terjadi.


Tingkah laku para sampah ini beragam. Mulai dari memberontak dari peraturan yang ada. Melewati batas yang ditentukan oleh norma. Menerobos jaring-jaring peraturan yang mengekang langkah. Sedikit orang yang bisa melakukan ini. Konsekwensinya memang tak ringan.  Dibuang.  Dianggap pemberontak.

Tapi apakah resiko ini bisa dianggap pantas dengan hasilnya? Who knows... itu semua tergantung pada pribadi masing-masing “sampah” berani melawan tirani atau tergeletak tak berdaya dikekang oleh peraturan-peraturan yang sangat mengikat

Tulisan ini bukan untuk menyemangati para “sampah” untuk bisa berani melawan. Tapi ini adalah tulisan untuk memberitahu. Bahwa sampah pun bisa jadi kebanggan tersediri. Menjadi beda dari yang lain. Bukanlah suatu kesalahan bukan?

Leave a Reply